Perkembangan Teknologi CDMA

Perkembangan sistem telekomunikasi seluler di Indonesiadimulai sejak hadirnya generasi pertama yaitu NMT (Nordic Mobile Telephone) dan AMPS (Advance Mobile Phone System). NMT dan AMPS menggunakan metode akses FDMA (Frequency Division Multiple Access) yang masih berupa sistem analog. Pada FDMA, tiap kanal pembicaraan dibedakan berdasarkan frekuensi. Tiap kanal menempati satu frekuensi dengan bandwidth 30 KHz. Ini berarti hanya satu user yang dapat menggunakan kanal pada frekuensi tersebut dalam tiap waktunya.

Kemudian hadir generasi kedua yang menggunakan metode akses TDMA (Time Division Multiple Access) yaitu GSM (Global Mobile Telephone). Pada sistem TDMA, kapasitas kanal dapat ditingkatkan dengan menerapkan pembagian waktu. Satu kanal frekuensi dapat dibagi lagi menjadi beberapa time slot, contohnya pada GSM, dimana satu band frekuensi dibagi menjadi delapan time slot.

Sekarang telah hadir teknologi baru yang dapat memaksimalkan kapasitas kanal yaitu metode akses CDMA (Code Division Multiple Access). Dengan CDMA semua user dapat menggunakan frekuensi yang sama dengan bandwidth 1.25 MHz, namun tiap user dibedakan oleh kode unik tertentu. Perkembangan teknologi CDMA didasari oleh meningkatnya kebutuhan akan telekomunikasi seluler, sedangkan kapasitas kanal yang diterapkan selama ini terbatas.           CDMA merupakan metode akses yang menggunakan teknik spread spectrum direct sequence, dimana pengiriman sinyal menduduki lebar pita frekuensi melebihi spektrum minimal yang dibutuhkan. Teknik spread spectrum pada awalnya digunakan untuk kebutuhan militer karena memiliki kelebihan mampu mengatasi jamming dengan baik. Teknik akses CDMA mulai digunakan secara komersial pada tahun 1995, terutama setelah diluncurkan IS-95 pada tahun 1992 oleh Qualcomm. IS-95 (EIA/TIA, 1993) adalah spesifikasi air interface berdasarkan direct sequence (DS) CDMA dengan menggunakan frekuensi 800 MHz.

CDMA memiliki karakteristik sebagai berikut :

  • Prinsip CDMA adalah sejumlah user menggunakan resource band RF yang sama, namun setiap user dibedakan dengan menggunakan kode-kode orthogonal.
  • Standard IS-95, laju data pada akhir spreading adalah 1,2288 Mcps dan ini membutuhkan bandwidth lebih kurang 1,25 Mhz.
  • Kinerja sistem CDMA dibatasi oleh interferensi, artinya kapasitas dan kualitas dibatasi oleh daya interferensi yang terjadi pada band RF yang dipakai.
  • Kapasitas didefinisikan sebagai jumlah user secara simultan yang dapat didukung oleh sistem.
  • Kualitas ditunjukkan oleh BER yang merupakan syarat dalam melayani user.

Dari berbagai sumber

Tulisan terkait:

Power Control Pada CDMA 2000 1X

Karakterisitik Kanal Wireless

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s