Jakarta oh Jakarta..

Monas

Monas, Jakarta

Akhirnya punya kesempatan dan kemauan lagi untuk menulis🙂
Setelah proses yang berliku-liku akhirnya perjalanan studiku dibangku kuliah menemukan ujung juga, tepatnya pertengahan September kemaren aku telah menamatkan studi ku secara resmi dari kampusku. Senang banget rasanya bisa menyelesaikan semua yang menjadi momok untuk setahun belakang ini🙂. Seneng banget melihat kedua orang tua ikut merasa bangga pada hari bersejarah itu, walaupun mereka tidak mengungkapkan tapi aku tau kalau mereka sangat bangga melihat anak tertuanya bisa menyelesaikan studi S1-nya walapun sedikit terlambat. Sekarang tinggal mencari jalan, informasi dan usaha untuk rencana berikutnya, kerja!.

Untuk mencari kerja, aku memang sudah jauh-jauh merencanakan berngkat ke Jakarta, karena untuk kota ku sendiri tidak terlalu banyak perusahaan yang menerima lulusan teknik, apalagi jurusan ku. Jakarta, kota yang belum sekalipun ku kunjungi selama hidup ku, betapa ndeso-nya aku. Sehari sesudah wisuda aku langsung mengatur tanggal keberangkatan dan me-list semua dokumen yang harus dipersiapkan sebelum berangkat. Semua dokumen yang harus ku bawa baru selesai hampir sebulan setelah wisuda ku, dan minggu pertama pada bulan berikutnya aku berangkat meninggalkan kota yang sudah 6 tahun menjadi tempat ku belajar, belajar mengenai hidup, belajar mengenai manusia dan lingkungannya. Banyak kenangan manis di kota ini, dan tidak sedikit kenangan pahit juga di kota ini. Hmmm.. dengan hembusan panjang akhirnya aku berangkat pagi itu dengan dilepas beberapa orang rekan dari kampus dan dibekali bungkusan dari si Ndut.

Aku masih ingat, hari itu tanggal 5 Oktober 2011, aku berangkat jam 09.30 pagi menuju tempat aku dan temanku akan dijemput oleh bus yang akan menjadi rumah ku selama beberapa hari ke depan. Menurut informasi yang ku dapat, perjalanan dari Padang ke Jakarta memakan waktu 3 hari dan 2 malam. Tetapi perjalananku hanya memerlukan waktu 2 hari 2 malam karena pada tanggal 7 Oktober dini hari aku sudah berada di Depok, tempat tinggalku selama aku mencari kerja di Jakarta.

Jakarta memang kota yang menjanjikan, segala macam jenis pekerjaan ada di kota ini, mulai dari pemulung sampai eksekutif berdasi, buruh harian sampai pekerja kantoran, pedangan kaki lima sampai mall kelas satu yang harga satu item barangnya bisa mencapai jutaan rupiah. Kompleks, mungkin itu satu kata yang tepat untuk menggambarkan kota Jakarta dari kacamata ku.

Depok tempat ku tinggal terletak tidak terlalu jauh dari Jakarta, sangat dekat dengan Universitas Indonesia dan Statisun Kereta Api Pondok Cina, hanya beberapa ratus meter dari Detos dan Margocity. Disini aku menghabiskan waktu selama lebih kurang 2 bulan, mengarungi kota Jakarta dengan kereta api dan busway, main futsal bareng kawan-kawan jobseeker lainnya, joging dan jalan-jalan ke UI (orang di depok dan sekitarnya biasanya menyebut dengan  sebutan U Ik), main badminton di Hall samping statisun Pondok Cina. Kadang jalan-jalan ke Margo atau Detos sekedar untuk melihat-lihat karena jangankan untuk shoping, uang untuk makan pun sudah mulai susah.

Dari tempat tinggalku, kalau ingin ke UI (baca U Ik) cukup dengan berjalan kaki, menyeberangi Jl. Margonda Raya ke arah Kampus Gunadarma dan menyusuri jalan tepian selokan yang biasanya merupakang tempat nongkrong beberapa orang pengemis lalau sampai di stasiun Pondok Cina, tinggal menyeberangi rel kereta api dan sampai di UI. Aku biasanya ke UI jika ada tes atau jika ingin joging keliling UI bareng teman-temanku, teman-teamnku bilang itung-itung refreshing, menyegarkan mata melihat mahasiswa UI (cuma berani melihat-lihat doang). Aku sempat tiga kali mengikuti tes yang dilaksanan di UI oleh salah satu operator telekomunikasi swasta yang cukup besar di Indonesia, tapi belum nasib, kandas di wawancara terakhir, mungkin belum nasibkali ya.

Perjalanan di Jakarta, aku biasanya menggunakan jasa kereta api dan busway. Untuk perjalanan dengan kerta api, hal yang harus diperhatikan disini adalah semua barang berharga yang kita punya, karena perjalanan dengan kereta api sangat rentan dengan kecopetan. Bagaimana tidak, kondisi kereta api di Jakarta sangat tidak berperikemanusiaan, apalagi jam pagi (jam berangkat kerja) dan jam sore (jam pulang kerja). Jika naik kereta api pada jam-jam tersebut, harus siap-siap bersaing dengan penumpang lain hanya untuk mendapatkan tempat untuk beridiri di dalam gerbong kereta atau di pintu kereta. Jangan berharap bisa duduk jika tidak naik dari stasiun awal keberangkatan kereta, untuk mendapatkan tempat beridiri saja susahnya minta ampun bahkan aku sering harus naik kereta berikutnya karena kondisi kereta yang sudah terlalu penuh dan tidak memungkinkan lagi walau hanya untuk beridiri sekalipun. Untuk perjalanan dengan busway lebih sedikit melegakan karena tidak terlalu pernuh sesak seperti kereta api, tapi sayang rute busway tidak ada yang sampai ke Depok.

Kota Jakarta sebenarnya tidak terlalu besar, jika ingin keliling Jakarta,jalan termurah adalah dengan busway, tinggal bayar tiket masuk Halte pertama dan sudah bisa naik busway sesuka hati tanpa harus membayar lebih lagi, tetapi dengan syarat harus tidak pernah keluar dari Halte busway. Maksudnya seperti ini, jika kita ingin pergi ke suatu tempat, kita hanya perlu pindah bus tanpa harus bayar lagi jika tempat tujuan kita tidak ada busway langsung dari stasiun awal. Ngerti kan? Kalau bingung ya sudah lah..

Itu lah, sekilas cerita ku di Jakarta..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s