Timor Leste

Tugu Perbatasan Timor Leste

Aku terdampar di negara bekas jajahan Indonesia, Timor Leste. Masih ingat kan? Propinsi yang dikatakan propinsi termuda ketika kita belajar di SD dulu. Sewaktu masih tergabung dengan Indonesia dulunya daerah ini dipanggil dengan nama Propinsi Timor Timur. Terletak di sebelah kanan Nusa Tenggara Barat kalau kita lihat di atlas Indonesia. Saat ini aku berdimisili di Ibukota Negara tersebut, kota Dili.

Kota Dili memliki penduduk yang tidak terlalu banyak, menurut info yang ku dapat dari google, penduduk kota ini hanya berjumlah sekitar dua jutaan. Kota Dili juga tidak terlalu besar, masih sangat tertinggal jika dibandingkan dengan Ibu Kota Indonesia, Jakarta. Bahkan jika dibandingkan dengan Ibukota Propinsi Sumater Barat, Padang, masih lebih bagus Padang. Penduduk di sini rata-rata Kristen, hanya sebagian kecil yang beragama Islam dan itupun pendatang dari Makasar, Jawa atau bule dari Negara-Negara Timur Tengah yang masih bertugas sebagai polisi UN di sini. Ya, disini masih banyak polisi UN yang bertugas, polisinya PBB. Kalau dipikir-pikir Negara ini sudah cukup lama merdeka dari Indonesia, tapi entah kenapa masih ada polisi UN di sini. Mungkin memang masih diperlukan atau memang ada kepentingan lain barangkali.

Rumah Penduduk Di Daerah Timor Leste

Sejak melepaskan diri dari Indonesia, Timor Leste menggunakan Bahasa Portugis dan bahasa Tetun (bahasa asli Timor Leste) sebagai bahasa Nasionalnya. Jadi anak SD, SMP dan SMA disini sudah tidak diajarkan bahasa Indonesia dan hanya orang-orang yang sudah mengenyam pendidikan sebelum tahun 1999 saja yang bias berbahasa Indonesia disini.

Kota Dili terletak di bagian utara Negara Timor Leste, di tepi pantai. Sudah tiga belas hari aku disini dan hampir setiap hari selalu melewati pantai kota ini. Di sepanjang pantai kota ini berjejeran gedung kedubes dari berbagai Negara di Dunia, mulai dari USA, China, Jepang, Turki, Malaysia, Korea, dan teakakhir Kedubes Indonesia. Hanya Kedubes Australia yang terletak di jalan utama kota ini.

Pantai di sini cukup bagus, masih bersih cuman tidak terlalu panjang. Setiap hari minggu, biasanya banyak bule dari Eropa dan Australia yang berjemur di pantai. Walaupun Timor Leste belum terlalu maju, tapi keberdaan orang kulit putih disini cukup banyak menurutku. Hampir setiap hari aku selalu bertemu dengan bule, mulai dari yang berjalan kaki, ada yang menggunakan sepeda dan ada juga yang menyetir sendiri. Rata-rata bule disini adalah pengusaha, polisi UN dan ada juga yang memang sengaja datang untuk berwisata.

Oh iya, cerita mengenai pantai, disini pantainya ada buaya. Aneh menurutku, karena selama di Indonesia aku tidak pernah menemukan pantai yang ada buaya-nya. Memangnya buaya bias hidup di air asin ya? Entah lah. Tapi menurut orang-orang yang sudah lama bekerja disini memang benar begitu. Bahkan ada beberapa orang dilingkungan ku pernah melihat buaya di laut bagian utara kota ini ketika sedang memancing. Di beberapa pantai pun aku melihat memang ada tanda peringatan untuk waspada terhadap buaya.

Salah Satu Pantai Di Timor Leste

View Nelayan Dari Pantai

Negara ini ternyata cukup kaya. Coba bayangkan, sekolah negeri disini benar-benar gratis, malahan siswanya di kasih makan siang sekalian katanya. Penduduk yang sudah jompo dan tidak bekerja juga diberi santunan sebesar USD 8.000/tahun, lumayan gede kan. Sekarang mereka juga sedang menggalakkan pembangunan rumah gratis untuk rakyatnya. Negara ini mempunyai penghasilan utama dari minyak katanya, memang lading minyak mereka tidak terlalu besar, tetapi jika dibandingkan dengan jumlah penduduk mereka, ternyata penghasilan dari minyak tersebut lebih besar dari biaya untuk mengelola negaranya, makanya mereka memperoleh banyak keuntungan dari minyak tersebut. Mudah-mudahan saja aparat pemerintahan disini tidak sama dengan di Indonesia, tidak hanya memikirkan uang untuk kantong sendiri. Semoga saja..

6 thoughts on “Timor Leste

  1. Finally, abangku ini bikin postingan juga (style curhat kayaknya).😀
    Bisa jadi itulah alasan mengapa Timor Leste bersikeras pisah dari NKRI, takut aja kalau SDA yang melimpah tapi mereka tak bisa sepenuhnya menikmati.

    • Iya Nark, mumpung ada waktu luang, jadi nulis aja dari pada gk tau mau ngapain🙂
      Benar, memang salah satu alasannya itu. Sama seperti Irian Jaya sekarang ini..

    • Makasih aganwati, masih banyak yang harus dikoreksi dai tulisan ane🙂
      Terima kasih atas kunjungannya, ditunggu kunjungan selanjutnya:D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s