Mencari pekerjaan itu susah-susah mudah (part 1)..

Tantangan yang harus dihadapi ketika telah menyelesaikan kuliah adalah bekerja. Apapun bentuk kerja yang akan kita lakoni nantinya, yang pasti kita harus bekerja minimal untuk membiayai kehidupan kita sendiri.

Nah, sehubungan dengan kerja dan mencari kerja ini, aku punya cukup banyak pengalaman. Mulai dari memasukkan lamaran secara online ke situs lowongan kerja, memasukkan lamaran via pos dan memasukkan lamaran ke stand masing-masing perusahaan di Jobfair yang merekea adakan di kampus-kampus.

Setelah selesai sidang sarjana sekitar satu tahun yang lalu, aku langsung memulai untuk memasukkan lamaran secara online ke semua perusahaan yang membutuhkan karyawan baru saat itu. Hasilnya, ketika prosesi wisuda belum dimulai, aku sudah beberapa kali mendapatkan undangan tes dari perusahaan-perusahaan yang ada disekitar Jakarta. Terpaksa beberapa undangan tersebut harus ku tolak dengan halus karena rata-rata mereka memintaku untuk datang ke Jakarta untuk melakukan tes, sementara aku masih harus menunggu jadwal wisuda dan mempersiapkan semua arsip dan surat menyurat yang pasti nantinya akan sangat dibutuhkan pada saat proses seleksi menjadi karyawan di perusahaan-perusahaan itu.

Sebulan setelah wisuda, aku baru mendapatkan semua berkas surat menyurat yang akan menjadi modal utamaku untuk mejadi “pejuang pencari kerja”. Dan aku pun langsung berangkat menuju kota yang menjadi pusat perekonomian negara ini, Jakarta. Rangkaian test pertamaku adalah saat berkunjung ke job fair yang di adakan oleh kampus ITB, waktu itu aku memasukkan ke hampir semua perusahaan yang membuka stand disana, tetapi panggilan test hanya datang dari satu perusahaan, mungkin memang lagi sial atau memang karena perusahaan itu belum kenal dengan almamaterku – isu almamater -_-“. Satu perusahaan yang mengundang aku untuk test waktu itu adalah Kaltim Prima Coal, sebuah owner pertambangan batu bara di Kalimantan Timur. Aku hanya bisa sampai tes ke 2 disini, test psikotest. Aku gagal untuk yang kedua kalinya..

Seperti yang aku baca dari artikel di internet dan juga menurut informasi dari teman-temanku, psikotest itu memang menjadi momok bagi sebagian orang, tetapi BISA DIPELAJARI. Wah, kata-kata bisa dipelajari ini yang harus di”underline”, di”bold” dan di warnai dengan warna merah😀. Setidaknya BISA DIPELAJARI, yang penting jangan pernah menyerah untuk selalu ikut test dan melakukan evaluasi di setiap kegagalan nantinya. Yup, that it’s🙂

Setelah gagal untuk kedua kalinya, akhirnya aku melakukan riset kecil-kecilan sekalian melakukan simulasi dan training sendiri untuk psikotest ini. Dari hasil riset yang aku lakukan, ternyata psikotest itu memang mudah-mudah susah. Menurut analisaku, sebelum merekrut karyawan, setiap perusahaan sudah menentukan parameter karyawan seperti apa yang nantinya akan mereka terima, nah dari sini lah dasar penentuan seseorang itu lulus psikotest atau tidak, test psikotest hanyalah “tools” untuk melihat kecenderungan seorang calon karyawan itu seperti apa dan apakah cocok atau tidak dengan kebutuhan perusahaan seperti yang telah mereka tetapkan, gitu.

Untuk yang masih bingung, misalnya lowongan untuk Management Trainee (MT), artinya perusahaan membuka lowongan ini untuk orang-orang yang diharapkan nantinya bisa menjadi manager diperusahaan tersebut, otomatis mereka membutuhkan orang-orang dengan tipikal pemimpin dan orang yang pintar untuk bernegosiasi. Nah dengan psikotest, psikolog bisa melihat dan menyeleksi calon karyawan dengan kriteria yang dibutuhkan tersebut. Beda lagi jika lowongannya adalah Engineer, untuk seorang engineer orang yang dibutuhkan adalah orang-orang dengan logika yang bagus, analitis, dan bisa memutuskan dengan cepat. Untuk lowongan engineer, biasanya juga dibutuhkan skill sesuai dengan bidang masing-masing. Skill ini yang menentukan, jiwa kepemimpinan hanya sebagai penunjang saja.

Balik lagi ke masalah psikotest, dari pengalaman ku setelah beberapa kali meingikuti psikotest, pada psikotest itu ada beberapa tools dan metoda yang digunakan, secara umum biasanya adalah :

  1. Test IQ
  2. Hitunga-hitungan dasar
  3. Verbal
  4. Hubungan logic
  5. Papikostik
  6. Pauli/Kraplein
  7. Warteg
  8. Menggambar orang
  9. Menggambar pohon
  10. Diskusi kelompok (Focus Discussion Group/FGD)
  11. Wawancara Psikolog/HRD

Untuk test dari no 1-9 biasanya dalam satu rangkaian test, memakan waktu 3-6 jam. Test ini sangat banyak menguras energi, jadi usahakan kondisi fisik benar-benar fit sebelum melakukan test ini.

Setelah lolos semua rangkaian psikotest, test selanjutnya adalah wawancara dengan User/Calon Bos kita nantinya. Untuk wawancara ini, rasa ketertarikan User terhadap kita 90% menentukan apakah kita diterima atau tidak. Jadi, disamping skill (baik skill kepribadian maupun skill keahlian), attitude sangat diperhatikan disini. Jadi harus benar-benar sopan.

Mudah-mudahan dengan infromasi di atas akan lebih membuka pandangan, jangan lupa commentnya ya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s